Jiwa Akan Kembali Pada Habitatnya

___Jiwa Akan Kembali Pada
Jiwa, akan kembali kepada habitat-nya. Tempat dimana dia merasa lebih condong, merasa tenang, senang dan nyaman. Ketika jiwa lebih condong pada kemaksiatan, dia akan mengarah pada tempat-tempat maksiat, temen-temen yang bermaksiat dan berbuat maksiat. Begitu pula ketika jiwa lebih condong pada ke-ilmu-an, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia pendidikan, temen-temen yang berilmu dan membaca buku. Ya, seterusnya demikian. Tergantung pada kecondongannya kemana (!) Jiwa, tidak tergantung pada bentuk wujud fisik. Ketika ada seorang laki-laki yang kecondongannya menggunakan penampilan perempuan, maka dia akan lebih merasa tenang, senang dan nyaman pada habitatnya itu, ya walaupun sebagai fitrahnya dia sebagai seorang laki-laki namun jiwanya tetap seperti perempuan. Begitu pula dengan perempuan yang jiwanya lebih condong pada penampilan laki-laki. Tentu, jiwa juga merobah prilaku, sikap dan seterusnya. Sehingga dia bisa di deteksi oleh kasat mata sebenarnya bagi orang-orang yang menggunakan pikirannya untuk membaca dimensi lain yang berbicara huruf dan bunyi. Tidak hanya itu, jiwa manusia juga bisa menjelma sebagai hewan. Apakah itu binatang buas, melatah atau ternak. Disamping hewan, jiwa manusia juga bisa menjelma menjadi tumbuhan dan jin. Kecondongan itu akan menampilkan prilaku jiwa pada gerak fisik dan kemurnian jiwa tidak mungkin dapat disembunyikan. Dia akan terlihat jelas, terang dan nyata dalam pandangan mereka yang tercerahkan. Saya teringat kisah tentang al-mar’u ma’a man ahabba (seseorang akan dikumpulkan bersama yang dicintai) yang diriwayatkan dalam banyak kitab hadits, seperti Musnad Ahmad, Shahih Muslim, Shahih al-Bukhari, dan kitab hadits lainnya dari berbagai jalur riwayat. Imam al Mubarakfuri memaparkan dalam Tuhfatul Ahwadzi yang merupakan syarah kitab Sunan at Tirmidzi bahwa dari ragam riwayat itu, keseluruhannya saling melengkapi tentang bagaimana seorang muslim yang tidak mampu melakukan banyak amal seperti orang-orang saleh, agar tetap optimis, dan terus mempertahankan cinta pada Allah, Rasul-Nya dan para shalihin. مَنْ أَحَبَّ قَوْمًا بِالْإِخْلَاصِ يَكُونُ مِنْ زُمْرَتِهِمْ وَإِنْ لَمْ يَعْمَلْ عَمَلَهُمْ لِثُبُوتِ التَّقَارُبِ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَرُبَّمَا تُؤَدِّي تِلْكَ الْمَحَبَّةُ إِلَى مُوَافَقَتِهِمْ “Jika seseorang mencintai kalangan saleh dengan ikhlas, maka sebagaimana dinyatakan Nabi, ia termasuk golongan mereka kendati amalannya tidak seperti yang dilakukan orang-orang saleh tadi, sebab keterpautan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar bisa berbuat serupa.” (Muhammad bin Abdurrahman al Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ at Tirmidzi [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah], juz 7, hal 53) Semoga jiwa kita senantiasa terpelihara dari sifat-sifat yang menghilangkan sifat kemanusiaan dan semoga jiwa kita terpelihara untuk tetap senantiasa mencintai Allah s.w.t, Rasulullah s.a.w dan para Shalihin. Yaa rabbana, anugerahkanlah kepada kami, keluarga kami dan keturunan kami kecondongan jiwa yang senantiasa mencintai-Mu, mencintai Rasul-Mu dan mencintai para Shalihin. Persatukan jiwa kami, teguhkan jiwa kami dalam persatuan dan janganlah Engkau jadikan jiwa kami bercerai-berai. Allahumma aamiin... Penulis : Muhammad Mas'ud Silalahi (Pimpinan Pengasuh Rumah Qur'an)

Posting Komentar

0 Komentar